Minggu, 17 November 2019

Buck-boost converter

Buck-boost converter adalah konverter tegangan DC yang bekerja dengan memadukan prinsip buck-converter dan boost converter.
Buck-boost converter memiliki keunggulan-keunggulan buck-converter dan boost-converter. Ia diperlukan manakala tegangan keluaran yang diinginkan tetap berada pada level yang telah ditentukan meskipun tegangan masukan (misalnya dari baterai) telah merosot hingga ke level yang tidak efektif lagi untuk kinerja sebuah rangkaian konverter.
Dengan diterapkannya buck-boost converter berkurangnya level tegangan masukan menjadi dapat lebih ditolerir atau (dengan kata lain) range tegangan input menjadi lebih lebar lagi dari sebelumnya. Dengan begitu efisiensi penggunaan baterai sebagai sumber tegangan masukan menjadi lebih baik.

Buck-boost converter dan cara kerjanya.
Ada beberapa model buck-boost converter dengan metode kerja yang berbeda, salah satu di antaranya yang cukup populer dan menjadi dasar buck-boost converter adalah sebagaimana yang dipaparkan berikut ini :

Di dalam rangkaian buck-boost converter terdapat sirkit buck-converter dan boost converter.

Sebagaimana telah disinggung di dalam tulisan sebelumnya bahwa sebuah rangkaian buck-converter memerlukan tegangan masukan yang lebih tinggi beberapa Volt (biasanya 3V atau lebih) dari tegangan keluarannya. Apabila tegangan masukan (V+in) berkurang levelnya hingga di bawah itu maka sebuah buck-converter tidak akan akurat lagi menghasilkan tegangan keluaran yang tepat atau tegangan keluaran menjadi tidak stabil.
Pada saat seperti itulah diperlukan boost-converter agar tegangan yang telah turun itu dapat kembali dinaikkan kepada level yang diinginkan sehingga beban (load) di sirkit keluaran tetap mendapatkan suplai tegangan sebagaimana mestinya.

prinsip_dasar_buck-boost_converter

Pada gambar diperlihatkan rangkaian dasar buck-boost converter.
T1, D1 dan L1 membentuk rangkaian buck-converter, sedangkan T2, L1 dan D2 membentuk rangkaian boost-converter. Di sini L1 berperan ganda, yaitu sebagai induktor bagi buck-converter ataupun bagi boost-converter.

Jika level tegangan masukan normal, buck-converter akan bekerja sebagaimana mestinya sedangkan boost-converter tidak bekerja. Hanya saja tegangan keluaran akan sedikit lebih kecil karena terambil oleh tegangan maju D2, sebab dioda ini menghantar. Dengan demikian untaian ‘fly-wheel’ di sini mencakup L1, D2, C1 dan D1.
Ketika sirkit buck-converter bekerja, basis T1 mendapatkan denyut-denyut tegangan positif dari generator sinyal/osilator.
Tentang cara kerja buck-converter telah dijelaskan di dalam tulisan sebelumnya : Buck converter .

Jika tegangan masukan merosot hingga ke level tertentu maka buck converter tetap bekerja karena basis T1 masih mendapatkan denyut-denyut tegangan, namun level tegangan keluaran sudah akan ikut menurun juga. Pada saat itulah boost-converter mulai bekerja menaikkan tegangan yang sedianya akan menurun.
Basis T2 lalu mulai mendapatkan denyut-denyut tegangan positif sebagaimana T1. Sementara itu tegangan keluaran diregulasi agar tetap berada pada level stabil yang telah ditentukan.
T1 dan T2 lalu ON dan OFF secara serempak. Apabila basis kedua transistor sedang mendapatkan denyut tegangan positif maka T1 menghantarkan tegangan masukan V+in ke titik x sehingga tegangan di titik x itu akan nyaris sama dengan tegangan V+in. Tegangan ini dilewatkan/diluluskan oleh induktor (L1) ke titik y.

Akan tetapi di saat yang bersamaan T2 juga ON dan meng-ground-kan titik y sehingga di titik itu praktis tegangan menjadi nol Volt. Mengalirlah arus maksimal melalui L1 karena adanya perbedaan potential antara titik x dan y. Pada saat inilah energi listrik tersimpan di L1.
Ketika basis kedua transistor tidak lagi mendapatkan denyut tegangan positif (waktu kosong denyut) maka kedua transistor tidak lagi ON. Pada saat ini energy yang tersimpan di L1 dilepaskan dan tegangan di titik y menjadi lebih tinggi dari titik x.
Tingginya tegangan di titik y bahkan menjadi lebih tinggi dari level tegangan V+in (tegangan masukan) sebab di sini prinsip boost-converter berlaku. Tentang ini telah dijelaskan sebelumnya dalam : Boost-converter .

D2 lalu menghantarkan tegangan ini untuk mengisi muatan C1 dan mengaliri arus ke beban (load). Ini berlangsung sesaat, yaitu ketika basis kedua transistor sedang tidak mendapatkan denyut tegangan positif.
Ketika kedua transistor kembali mendapatkan denyut tegangan positif maka T1 dan T2 kembali ON secara serempak. T1 menghantarkan tegangan V+in ke titik x dan T2 meng-ground-kan titik y.
Titik y kembali menjadi praktis nol Volt. Pada saat ini pun kembali terjadi penyimpanan energi di L1.
Meskipun titik y praktis menjadi nol Volt, namun beban tetap teraliri arus karena C1 yang sebelumnya telah terisi muatan kini membuang muatannya ke beban. Muatan C1 hanya terlimpahkan ke beban dan tidak ada aliran arus dari C1 ke titik y meskipun di titik itu telah menjadi nol Volt, sebab disumbat oleh D2 (ingatlah tentang sifat-sifat dioda).

Mulai bekerjanya sirkit buck-converter dan boost-converter secara bersama-sama adalah ketika tegangan V+in menurun hingga ke level tertentu dan level ini ditentukan titik rendahnya.

Sebuah sirkit tambahan diadakan untuk menyensor tegangan V+in (sirkit ‘sense’).
Sirkit ini akan beraksi menyalurkan denyut-denyut tegangan ke transistor boost-converter apabila ia telah mendeteksi bahwa tegangan V+in telah turun ke titik rendah yang ditentukan.

Adapun besarnya tegangan keluaran yang dihasilkan oleh buck-boost converter secara praktis dapat ketahui dari perhitungan :

V+out = V+in . D / (1-D)

V+out adalah tegangan keluaran dalam Volt
V+in adalah tegangan masukan dalam Volt
D adalah faktor duty-cycle
Dalam penerapannya D dibuat tidak melampaui angka 0,8 sebagaimana halnya pada boost-converter.

Contoh : Jika V+in = 16V dan D = 0,7 maka V+out = 16 x 0,7 / (1-0,7) = 37,33V.

Agar tegangan keluaran dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan maka ditambahkan pula sirkit pengontrol tegangan keluaran (sirkit ‘control’).
Sirkit ini akan merubah-rubah faktor duty-cycle berdasarkan besar-kecilnya tegangan yang diumpankan kepadanya, dan tegangan yang diumpankan itu diambil dari V+out.
Dengan demikian V+out dibuat stabil meskipun V+in levelnya tidak tetap atau bervariasi.

Untuk penerapan pada rangkaian-rangkaian elektronik yang menggunakan suplai DC tegangan rendah, pada buck-boost converter digunakan transistor-transistor MOSFET sedangkan dioda-dioda menggunakan jenis schottky.
Transistor MOSFET lebih sempurna berperan sebagai ‘switch’ dan dioda schottky mempunyai tegangan maju (FVD) yang sangat kecil sehingga meminimalisir tegangan hilang karena terambil oleh tegangan maju dioda.

Pengembangan buck-boost converter.
Buck-boost converter terus dikembangkan orang untuk mendapatkan hasil yang lebih baik pada area penggunaan yang lebih meluas.
Pada kelanjutannya muncul beberapa model buck-boost converter dengan cara kerja yang lebih variatif. Sebagian di antaranya adalah : Bidirectional buck-boost converter, Forward hybrid converter, Synchronous buck-boost converter, dan Buck-boost and flyback converter.

Contoh rangkaian buck-boost converter.
Kini telah banyak beredar rancangan-rancangan buck-boost converter yang menggunakan IC. Satu di antaranya (sebagai contoh) adalah rangkaian dengan IC MC34063 dari Motorolla.
MC34063 dapat menurunkan dan menaikkan tegangan hingga maksimal 40V, arus maksimalnya 1,5A (pada tegangan operasional minimal). Tegangan masukan (V+in) bervariasi antara 3V sampai dengan 40V.
IC ini bekerja pada frekwensi denyut 100kHz.

buck-boost_converter_mc34063

Gambar memperlihatkan contoh rangkaian buck-boost converter dengan MC34063 yang dapat mengeluarkan tegangan stabil 10V dengan arus 120mA. Tegangan masukannya antara 4,5V...14,5V.
Rangkaian ini adalah bentuk rancangan buck-boost converter generasi awal.
Transistor power-switching pertama adalah MPSU51A yang berperan sebagai ‘switch’ buck-converter. Sedangkan transistor kedua ada di dalam internal IC dan berperan sebagai ‘switch’ boost-converter.
Kontrol tegangan keluaran dilakukan melalui pin 5 dengan ratio perbandingan antara Rx dan Ry.
Pin 7 merupakan pin deteksi arus kerja maksimum. Nilai resistor yang terhubung ke pin ini dan pin 6 (0,22Ω) menentukan besar arus maksimal yang masih diperbolehkan.

ADC (ANALOG TO DIGITAL CONVERTER)


ADC (analog to digital converter) adalah perangkat elektronika yang berfungsi untuk mengubah sinyal analog (sinyal kontinyu) menjadi sinyal digital. perangkat adc (analog to digital convertion) dapat berbentuk suatu modul atau rangkaian elektronika maupun suatu chip ic. adc (analog to digital converter) berfungsi untuk menjembatani pemrosesan sinyal analog oleh sistem digital.

Converter

Alat bantu digital yang paling penting untuk teknologi kontrol proses adalah yang menerjemahkan informasi digital ke bentuk analog dan juga sebaliknya. Sebagian besar pengukuran variabel-variabel dinamik dilakukan oleh piranti ini yang menerjemahkan informasi mengenai vaiabel ke bentuk sinyal listrik analog. Untuk menghubungkan sinyal ini dengan sebuah komputer atau rangkaian logika digital, sangat perlu untuk terlebih dahulu melakukan konversi analog ke digital (A/D). Hal-hal mengenai konversi ini harus diketahui sehingga ada keunikan, hubungan khusus antara sinyal analog dan digital.

ADC (Analog to Digital Convertion)

Analog To Digital Converter (ADC) adalah pengubah input analog menjadi kode – kode digital. ADC banyak digunakan sebagai Pengatur proses industri, komunikasi digital dan rangkaian pengukuran/ pengujian. Umumnya ADC digunakan sebagai perantara antara sensor yang kebanyakan analog dengan sistim komputer seperti sensor suhu, cahaya, tekanan/ berat, aliran dan sebagainya kemudian diukur dengan menggunakan sistim digital (komputer).
ADC (Analog to Digital Converter) memiliki 2 karakter prinsip, yaitu kecepatan sampling dan resolusi.

Kecepatan Sampling ADC

Kecepatan sampling suatu ADC menyatakan “seberapa sering sinyal analog dikonversikan ke bentuk sinyal digital pada selang waktu tertentu”. Kecepatan sampling biasanya dinyatakan dalam sample per second (SPS).
Kecepatan Sampling ADCIlustrasi Kecepatan Sampling ADC

Resolusi ADC

Resolusi ADC menentukan “ketelitian nilai hasil konversi ADC”. Sebagai contoh: ADC 8 bit akan memiliki output 8 bit data digital, ini berarti sinyal input dapat dinyatakan dalam 255 (2n – 1) nilai diskrit. ADC 12 bit memiliki 12 bit output data digital, ini berarti sinyal input dapat dinyatakan dalam 4096 nilai diskrit. Dari contoh diatas ADC 12 bit akan memberikan ketelitian nilai hasil konversi yang jauh lebih baik daripada ADC 8 bit.

Prinsip Kerja ADC

Prinsip kerja ADC adalah mengkonversi sinyal analog ke dalam bentuk besaran yang merupakan rasio perbandingan sinyal input dan tegangan referensi. Sebagai contoh, bila tegangan referensi 5 volt, tegangan input 3 volt, rasio input terhadap referensi adalah 60%. Jadi, jika menggunakan ADC 8 bit dengan skala maksimum 255, akan didapatkan sinyal digital sebesar 60% x 255 = 153 (bentuk decimal) atau 10011001 (bentuk biner).
signal = (sample/max_value) * reference_voltage
= (153/255) * 5
= 3 Volts

Komparator ADC

Bentuk komunikasi yang paling mendasar antara wujud digital dan analog adalah piranti (biasanya berupa IC) disebut komparator. Piranti ini, yang diperlihatkan secara skematik pada gambar dibawah, secara sederhana membandingkan dua tegangan pada kedua terminal inputnya. Bergantung pada tegangan mana yang lebih besar, outputnya akan berupa sinyal digital 1 (high) atau 0 (low). Komparator ini digunakan secara luas untuk sinyal alarm ke komputer atau sistem pemroses digital. Elemen ini juga merupakan satu bagian dengan konverter analog ke digital dan digital ke analog yang akan didiskusikan nanti.
Kompataror ADC (Analog to Digital Convertion)Konsep Kompataror Pada ADC (Analog to Digital Converter)
Gambar diatas memperlihatkan sebuah komparator merubah keadaan logika output sesuai fungsi tegangan input analog. Sebuah komparator dapat tersusun dari sebuah opamp yang memberikan output terpotong untuk menghasilkan level yang diinginkan untuk kondisi logika (+5 dan 0 untuk TTL 1 dan 0). Komparator komersil didesain untuk memiliki level logika yang dperlukan pada bagian outputnya.

Jenis-Jenis ADC (Analog to Digital Converter)

ADC Simultan

ADC Simultan atau biasa disebut flash converter atau parallel converter. Input analog Vi yang akan diubah ke bentuk digital diberikan secara simultan pada sisi + pada komparator tersebut, dan input pada sisi – tergantung pada ukuran bit converter. Ketika Vi melebihi tegangan input – dari suatu komparator, maka output komparator adalah high, sebaliknya akan memberikan output low.
ADC SimultanADC Simultan
Bila Vref diset pada nilai 5 Volt, maka dari gambar 3 dapat didapatkan :
V(-) untuk C7 = Vref * (13/14) = 4,64
V(-) untuk C6 = Vref * (11/14) = 3,93
V(-) untuk C5 = Vref * (9/14) = 3,21
V(-) untuk C4 = Vref * (7/14) = 2,5
V(-) untuk C3 = Vref * (5/14) = 1,78
V(-) untuk C2 = Vref * (3/14) = 1,07
V(-) untuk C1 = Vref * (1/14) = 0,36
Misal :
Vin diberi sinyal analog 3 Volt, maka output dari C7=0, C6=0, C5=0, C4=1, C3=1, C2=1, C1=1, sehingga didapatkan output ADC yaitu 100 biner
Tabel Output ADC SimultanTabel Output ADC Simultan
Ada beberapa konsep dasar dari ADC adalah dengan cara Counter Ramp ADCSuccessive Aproximation ADC dan lain sebagainya.

Counter Ramp ADC

Blok Diagram Counter Ramp ADCBlok Diagram Counter Ramp ADC
Pada gambar diatas, ditunjukkan blok diagram Counter Ramp ADC didalamnya tedapat DAC yang diberi masukan dari counter, masukan counter dari sumber Clock dimana sumber Clock dikontrol dengan cara meng AND kan dengan keluaran Comparator. Comparator membandingkan antara tegangan masukan analog dengan tegangan keluaran DAC, apabila tegangan masukan yang akan dikonversi belum sama dengan tegangan keluaran dari DAC maka keluaran comparator = 1 sehingga Clock dapat memberi masukan counter dan hitungan counter naik.
Misal akan dikonversi tegangan analog 2 volt, dengan mengasumsikan counter reset, sehingga keluaran pada DAC juga 0 volt. Apabila konversi dimulai maka counter akan naik dari 0000 ke 0001 karena mendapatkan pulsa masuk dari Clock oscillator dimana saat itu keluaran Comparator = 1, karena mendapatkan kombinasi biner dari counter 0001 maka tegangan keluaran DAC naik dan dibandingkan lagi dengan tegangan masukan demikian seterusnya nilai counter naik dan keluaran tegangan DAC juga naik hingga suatu saat tegangan masukan dan tegangan keluaran DAC sama yang mengakibatkan keluaran komparator = 0 dan Clock tidak dapat masuk. Nilai counter saat itulah yang merupakan hasil konversi dari analog yang dimasukkan.
Kelemahan dari counter tersebut adalah lama, karena harus melakukan trace mulai dari 0000 hingga mencapai tegangan yang sama sehingga butuh waktu.

SAR (Successive Aproximation Register) ADC

Blok Diagram SAR ADCBlok Diagram SAR ADC
Pada gambar diatas ditunjukkan diagram ADC jenis SAR, Yaitu dengan memakai konvigurasi yang hampir sama dengan counter ramp tetapi dalam melakukan trace dengan cara tracking dengan mengeluarkan kombinasi bit MSB = 1 ====> 1000 0000. Apabila belum sama (kurang dari tegangan analog input maka bit MSB berikutnya = 1 ===>1100 0000) dan apabila tegangan analog input ternyata lebih kecil dari tegangan yang dihasilkan DAC maka langkah berikutnya menurunkan kombinasi bit ====> 10100000.
Untuk mempermudah pengertian dari metode ini diberikan contoh seperti pada timing diagram gambar 6 Misal diberi tegangan analog input sebesar 6,84 volt dan tegangan referensi ADC 10 volt sehingga apabila keluaran tegangan sbb :
Jika D7 = 1 Vout=5 volt
Jika D6 = 1 Vout=2,5 volt
Jika D5 = 1 Vout=1,25 volt
Jika D4 = 1 Vout=0,625 volt
Jika D3 = 1 Vout=0,3125 volt
Jika D2 = 1 Vout=0,1625 volt
Jika D1 = 1 Vout=0,078125 volt
Jika D0 = 1 Vout=0,0390625 volt
Timing diagram urutan Trace SAR ADCTiming diagram urutan Trace SAR ADC
Setelah diberikan sinyal start maka konversi dimulai dengan memberikan kombinasi 1000 0000 ternyata menghasilakan tegangan 5 volt dimana masih kurang dari tegangan input 6,84 volt, kombinasi berubah menjadi 1100 0000 sehingga Vout = 7,5 volt dan ternyata lebih besar dari 6,84 sehingga kombinasi menjadi 1010 0000 tegangan Vout = 6,25 volt kombinasi naik lagi 1011 0000 demikian seterusnya hingga mencapai tegangan 6,8359 volt dan membutuhkan hanya 8 clock.
Uraian diatas merupakan konsep dasar dari ADC (Analog to Digital Converter), untuk pengembangan atau aplikasi ADC dan ADC dalam bentuk lain akan ditulis dalam artikel berbeda dengan tujuan dapat memberikan penjelasan yang lebih lengkap dari ADC (Analog to Digital Converter)

KISI-KISI PAS GASAL XI ELIND MIKROPROSESOR DAN MIKROKONTROLER

1.Arsitektur Mikroporsessor
2.Bagian-Bagian Mikroprosessor
3.Port-port pada Mikroprosesor Z80 dan fungsinya.
4.Intruksi Assembly Mikroprosesor
5.Bagian-bagian Mikrokontroller Atmega8535
6.Pemrograman mikrokontroller Atmega8535
7.Fungsi port-port I/O mikrokontroller Atmega8535
8.Sistem Minimum Mikrokontroler
9.komponen pendukung Sistem Minimum Mikrokontroler!
10.fungsi ADC Internal pada Mikrokontroler AVR Atmega8535!
11.Cara kerja rangkaian pengendali dengan mikrokontroler
12.Flowchart untuk rangkaian kontrol