Oleh : Ahmad Sholeh, S.Pd.,M.Kom.
Era kecerdasan artifisial (AI) telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Teknologi yang dahulu hanya menjadi alat bantu kini berkembang menjadi mitra berpikir yang sangat canggih. Di tengah kemajuan ini, tantangan terbesar bukan hanya penguasaan teknologi, tetapi bagaimana membangun generasi yang tetap beradab dan santun. Generasi muda hari ini tumbuh dalam ekosistem digital yang serba cepat, instan, dan terbuka. Informasi mengalir tanpa batas, namun tidak semuanya membawa nilai kebaikan. Tanpa pendampingan karakter, kemajuan teknologi justru berpotensi melahirkan sikap individualis, kurang empati, dan abai terhadap etika.
Kesantunan adalah fondasi peradaban. Dalam konteks era AI, kesantunan tidak hanya tercermin dalam interaksi langsung, tetapi juga dalam komunikasi digital, penggunaan media sosial, dan cara memanfaatkan teknologi cerdas. Bahasa yang sopan, sikap menghargai, dan empati menjadi semakin penting di ruang maya. AI mampu menjawab pertanyaan kompleks, menganalisis data besar, bahkan meniru gaya bahasa manusia. Namun, AI tidak memiliki hati nurani, nilai moral, dan rasa tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, manusialah yang harus menanamkan etika dalam setiap pemanfaatan teknologi.
Pendidikan memegang peran sentral dalam membangun generasi beradab di era AI. Sekolah tidak cukup hanya mengajarkan literasi digital dan keterampilan teknis, tetapi juga harus menanamkan nilai karakter seperti kejujuran, tanggung jawab, saling menghormati, dan kesantunan berkomunikasi. Guru dituntut menjadi teladan dalam bersikap dan berinteraksi, baik di dunia nyata maupun digital. Keteladanan guru dalam menggunakan teknologi secara etis akan membentuk pola pikir dan perilaku peserta didik dalam jangka panjang. Kurikulum di era AI perlu mengintegrasikan pendidikan karakter dengan pembelajaran berbasis teknologi. Proyek berbasis masalah, diskusi etika AI, dan refleksi nilai kemanusiaan dapat menjadi sarana efektif menumbuhkan kesadaran moral peserta didik.
Selain sekolah, keluarga memiliki peran yang tidak kalah penting. Orang tua perlu membangun komunikasi yang hangat, memberikan batasan penggunaan teknologi, serta menanamkan adab sejak dini. Lingkungan keluarga yang beradab akan menjadi benteng utama bagi anak dalam menghadapi arus digital. Kesantunan di era AI juga berkaitan erat dengan kemampuan berpikir kritis. Generasi muda harus diajarkan untuk tidak mudah terpancing emosi, hoaks, atau ujaran kebencian yang beredar luas di dunia maya. Sikap bijak dan santun dalam merespons perbedaan adalah ciri manusia beradab. Media sosial menjadi ruang pembelajaran karakter yang nyata. Setiap unggahan, komentar, dan interaksi digital mencerminkan kepribadian penggunanya. Oleh karena itu, literasi etika digital harus menjadi bagian penting dalam pendidikan generasi muda.
AI seharusnya dimanfaatkan sebagai alat untuk memperkuat nilai kemanusiaan, bukan menggantikannya. Teknologi dapat membantu proses belajar, pelayanan publik, dan pengambilan keputusan, tetapi nilai adab tetap harus berasal dari manusia. Generasi beradab adalah generasi yang mampu menggunakan AI secara bertanggung jawab. Mereka memahami batasan teknologi, menghargai privasi, dan tidak menyalahgunakan kecerdasan buatan untuk kepentingan yang merugikan orang lain. Kesantunan juga tercermin dalam cara generasi muda menyikapi keberagaman. Di era global dan digital, interaksi lintas budaya semakin intens. Sikap saling menghormati dan toleran menjadi kunci menjaga harmoni sosial.
Pendidikan karakter di era AI tidak boleh bersifat normatif semata, tetapi harus kontekstual dan aplikatif. Peserta didik perlu diajak mengalami langsung bagaimana nilai adab dan santun diterapkan dalam kehidupan nyata dan digital. Lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat harus bersinergi dalam membangun ekosistem yang mendukung generasi berkarakter. Regulasi, kebijakan pendidikan, dan budaya digital yang sehat perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Tantangan ke depan akan semakin kompleks seiring berkembangnya AI. Namun, kecanggihan teknologi tidak akan berarti tanpa manusia yang memiliki integritas dan adab. Peradaban maju selalu ditopang oleh nilai moral yang kuat.
Generasi santun bukan generasi yang lemah, melainkan generasi yang mampu mengendalikan diri, berpikir jernih, dan bertindak bijaksana. Di era AI, kemampuan ini menjadi keunggulan yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Dengan adab dan kesantunan, generasi muda dapat memanfaatkan AI untuk menciptakan solusi bagi berbagai persoalan bangsa. Teknologi menjadi sarana pengabdian, bukan sekadar alat pencapaian pribadi. Membangun generasi beradab di era AI adalah investasi jangka panjang bagi peradaban manusia. Proses ini membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan keteladanan dari semua pihak. Pada akhirnya, AI hanyalah alat, sedangkan manusia adalah penentu arah peradaban. Dengan menjunjung tinggi adab dan kesantunan, generasi masa depan akan mampu memimpin era teknologi dengan hati nurani dan nilai kemanusiaan yang luhur.
Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan mendasar dalam sistem pendidikan dan kehidupan sosial. Perubahan ini menuntut lulusan pendidikan yang tidak hanya kompeten secara akademik dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter beradab dan santun. Pendidikan nasional Indonesia merespons tantangan tersebut melalui perumusan Profil Delapan Dimensi Lulusan sebagai gambaran ideal capaian kompetensi dan karakter peserta didik. Profil ini menjadi acuan dalam menyiapkan lulusan yang mampu beradaptasi secara etis di era teknologi cerdas.
Adab dan kesantunan merupakan nilai lintas dimensi dalam Profil Delapan Dimensi Lulusan. Nilai tersebut menjadi fondasi moral dalam memanfaatkan AI agar tetap berpihak pada kemanusiaan dan keadilan sosial. Dimensi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa berperan sebagai landasan spiritual dalam penggunaan teknologi. Kesadaran religius membimbing lulusan agar menjadikan AI sebagai alat yang mendukung kebaikan dan kemaslahatan bersama. Akhlak mulia tercermin dalam perilaku santun, jujur, dan bertanggung jawab, baik dalam interaksi langsung maupun digital. Di era AI, akhlak mulia menjadi pengendali etika dalam komunikasi dan pemanfaatan data. Dimensi kewargaan menjadi warga negara yang bertanggung jawab, cinta tanah air, berempati, dan berkontribusi positif bagi masyarakat.
Dimensi penalaran kritis sangat relevan dalam menghadapi algoritma dan informasi berbasis AI. Lulusan dituntut mampu menganalisis, mengevaluasi, dan mengambil keputusan secara rasional tanpa mengabaikan nilai etika dan kesantunan. Dimensi kreatifivitas mendorong lulusan memanfaatkan AI secara inovatif untuk menghasilkan solusi yang bermanfaat. Kreativitas yang beradab memastikan bahwa inovasi teknologi tetap selaras dengan nilai moral dan sosial.
Dimensi kemandirian menuntut lulusan mampu mengelola pembelajaran dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab. Kemandirian ini mencakup disiplin digital, pengendalian diri, dan kesadaran akan batasan AI. Dimensi Kolaborasi diharapkan mampu bekerja sama dengan orang lain secara efektif untuk mencapai tujuan bersama dan menekankan pentingnya kolaborasi dalam pemanfaatan AI. Lulusan yang beradab menggunakan teknologi untuk memperkuat kerja sama dan solidaritas sosial, bukan untuk kepentingan individual semata.
Integrasi Profil Delapan Dimensi Lulusan dalam pendidikan menjadi strategi penting untuk membangun karakter peserta didik secara holistik. Setiap dimensi saling melengkapi dalam membentuk lulusan yang beradab dan santun. Sekolah memiliki peran strategis dalam menginternalisasikan delapan dimensi tersebut melalui pembelajaran kontekstual dan berbasis teknologi. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik memahami implikasi etis penggunaan AI dalam kehidupan nyata.
Guru berfungsi sebagai teladan dalam penerapan nilai Profil Delapan Dimensi Lulusan. Keteladanan guru dalam menggunakan AI secara etis akan membentuk budaya belajar yang bertanggung jawab dan berkarakter. Lingkungan keluarga dan masyarakat turut berkontribusi dalam memperkuat karakter lulusan. Sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun generasi beradab di era AI. Media digital dan AI perlu diposisikan sebagai sarana pembelajaran karakter, bukan sekadar alat teknis. Pemanfaatan teknologi yang selaras dengan Profil Delapan Dimensi Lulusan akan mendorong terbentuknya etika digital yang kuat.
Tantangan ke depan menuntut lulusan yang mampu menghadapi kompleksitas teknologi dengan integritas dan kesantunan. Profil Delapan Dimensi Lulusan menjadi pedoman dalam mengantisipasi dampak negatif perkembangan AI. Generasi beradab dan santun bukan berarti menolak teknologi, melainkan mampu mengendalikannya secara bijak. Keseimbangan antara kompetensi teknologi dan karakter menjadi ciri lulusan unggul. Dengan internalisasi Profil Delapan Dimensi Lulusan, pendidikan di era AI dapat menghasilkan lulusan yang siap berkontribusi secara sosial, nasional, dan global dengan tetap menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Dengan demikian, pembangunan generasi beradab dan santun di era kecerdasan artifisial melalui implementasi Profil Delapan Dimensi Lulusan merupakan strategi fundamental dalam menyiapkan masa depan pendidikan dan peradaban bangsa Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar